Sabtu, 13 April 2013

The “Rule” Of C.I.N.T.A.


Ketika anda membicarakan tentang banyak hal, anda tak akan pernah lepas dari suatu “Rule and Policy”. Begitupun juga sesuatu yang disebut “cinta”, tidak ada pengecualian dalam hal penerapan kaidah yang berlaku di dalam cinta itu sendiri.
Karena kita semua tahu, bahwa surga pecinta dan yang dicinta serta pemilik cinta yang hakiki adalah Allah SWT, maka tentu saja tulisan ini akan membahas mengenai “Rule” kaidah yang ada berdasar “Ayat-ayat Cinta” yang sudah termaktub maupun yang tidak.
Oleh karena itu, maka tidak akan ditemukan dalam kamus cinta dan istilah cinta sejati, suatu kaidah tentang cinta yang out of date, maupun masa cinta yang sudah habis dan akhirnya nonaktif tetapi yang ada adalah loe is endless.
Ketika anda sudah benar-benar bisa merasakan cinta, maka sudah menjadi keharusan dan kepastian bagi anda untuk mempertahankan perasaan cinta itu, seperti dalam suatu lirik lagu, semua ini pasti akan musnah……tetapi tidak cintaku padamu, inilah cinta yang hakiki, ketika anda tak bisa melakukan cinta yang seperti itu, so, that is N.A.F.S.U.
Cinta itu pengorbanan
Bila cinta itu suatu besaran, maka pengorbanan adalah alat ukurnya. Ibarat cinta itu massa, maka pengorbanan adalah neraca dan kadar cinta adalah sesuatu yang ditimbang.
Dari penjelasan di atas, bisa kita ketahui bahwa nilai pengorbanan sendiri sangatlah penting, seperti yang ditunjukkan dalam hadis:
لايؤمن احدكم حتي يحب لاخيه مايحب لنفسه
Atau perkataan J. F. Kennedy:
“Tanyakanlah apa yang kau bisa berikan pada negaramu, dan jangan tanyakan apa yang bisa negaramu berikan padamu”.
Dari hadis nabi dan perkataan J. F. Kennedy tadi, bisa kita istinbath dan istidlal (menghukumi dan mereferensi) bahwa suatu cinta tak kan ada artinya bila tanpa pengorbanan, meskipun hadis nabi dan pendapat J. F. Kennedy tadi berbeda dalam objek, namun bagi kita orang islam, pada hakikatnya segala cinta yang bisa me-wushul kan kita pada Allah SWT adalah cinta kepada Allah yang hakiki dan abadi Love is socri fices, endless socri fices.
Dan kita bisa menghayati kaidah-kaidah tadi kalau kita sudah menydari bahwa:
Cinta itu wajib buta (bold)
Cinta itu wajib, pasti, berhak, dan ora keno ora “buta”, meskipun seakan-akan negatif, tapi kata-kata ini begitu dalam dan penuh makna.
Cinta itu sesuatu yang abstrak dan tidak inderawi, cinta itu hanya didapat dan dirasa lewat hati dan perasaan. Cinta itu sendiri bukan sekedar suka, karena suka itu timbul dari sebuah respek yang diberikan otak terhadap identifikasi yang dilakukan oleh indera.
Penutup
من احب شيأ فهو عبده
Ketika anda menghayati hadis ini, maka seharusnya anda “semakin” menyadari bahwa sang pecinta dan yang di cinta serta pemilik cinta hakiki dan agung adalah allah SWT. Oleh karena itu, untuk menggapai cinta sejati , sudah semestinya kita “menjalankan” cinta sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan sang pemiliknya, kalau tidak, berarti seperti telah disebutkan bahwa itu sekedar nafsu belaka. Dan pada akhirnya, bisa kita tarik kesimpulan : to love is as difficult as to be loved. So, are you ready?

Oleh : My Friend M. Nashirul Haq di buletin El Wijhah '11

KBBI Online


Silahkan cari kata baku pada
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di sini

Jumat, 29 Maret 2013

KH. Soleh Darat (Gurunya Ulama Jawa)


Dimuat di bulletin El-Wijhah Edisi XXV
Oleh : Yahya Ubaidillah
Kategori : Profil

Nama Kyai Haji Soleh Darat memang tidak setenar Para Ulama di Tanah Air sekaliber KH.Nawawi Albantani dan KH.Hasyim Asyari, namun dibalik kemasturan tersebut KH.Soleh Darat merupakan sosok ulama yang memilki andil besar dalam penyebaran Islam di Pantai Utara jawa Khususnnya di Semarang. Murid yang pernah berguru kepadanya adalah KH.Hasyim Asy’ari Pendiri ponpes Tebuireng dan Pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama {NU) dan KH.Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyyah.
Beliau Bernama Muhammad Saleh lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada sekitar tahun 1820 , ayah beliu bernama KH.Umar sosok ulama yang terkenal pada masa Pengeran Diponegoro. Sejak kecil Kh.Saleh Darat mendapat tempaan ilmu dari Ayahnya yang memang seorang Ulama, setelah dirasa cukup lama belajar dengan ayahnya, KH Saleh Darat melakukan pengembaraan keberbagai tempat dalam menimba ilmu hingga akhirnya Beliau berkesempatan belajar di Mekkah, Disana beliau berguru dengan Ulama -ulama besar diantarnya Syaikh Muhammad Almarqi, Syaikh Muhammad Sulaiman Hasballah, Syaikh Sayid Muhammad Zein Dahlan, Syaikh Zahid, Syaikh Umar Assyani, Syaikh Yusuf Almisri serta Syaikh Jamal Mufti Hanafi dan Kh Saleh Darat bertemu dengan santri -santri yang berasal dari Indonesia antara lain KH Nawawi Al bantani dan KH Muhammad Kholil Al Maduri.
Nama Darat yang disandangnya merupakan sebutan masyarakat untuk menunjukan tempat dimana Kh Saleh tinggal yaitu di kampung darat yang masuk dalam wilayah kelurahan Dadap sari kecamatan Semarang Utara. Sebagaimana Kebiasaan Para ulama dahulu selalu menyebutkan Daerah Asal dibelakang namanya seperti Al Bantani ( Banten), Al Maduri ( Madura ), Al Banjari ( Banjar ) dll, begitu juga dengan Kh Saleh Darat Beliau biasa menggunakan namanya Muhammad Saleh Bin Umar Al Samarani yang bearti dari Semarang.
Sekembalinya menimba ilmu di Mekkah Kh Saleh Darat mengajar di Pondok Pesantren Darat milik mertuanya KH Murtadlo, sejak itu pondok pesantren berkembang dengan pesatnya banyak santri-santri yang berdatangan dari berbagai daerah di pulau jawa untuk menimba ilmu darinya.Di antara murid -murid beliu yang termashur adalah KH.Hasyim Asyari(tebu ireng), Kh.Ahmad Dahlan , Kh Munawir( krapyak Jogja),KH Mahfudz (termas Pacitan ) maka pantas rasanya bila KH Saleh darat disebut sebut sebagai Gurunya Para Ulama di Jawa.
KH Saleh darat banyak menulis kitab-kitab dengan menggunakan bahasa PEGON ( hurup Arab dengan menggunakan Bahasa Jawa) Bahkan Beliau Sempat pula menterjemahkan Alquran dengan menggunakan Hurup Pegon seperti KItab Faid ar-Rahman yang merupakan Tafsir pertama di Nusantara yang ditulis dengan Hurup Pegon, Kitab tersebut dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai Kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat yang menjabat sebagai bupati Rembang.
Karya karya beliau lainnya adalah Kitab Majmu’ah asy-Syariah, Al Kafiyah li al-’Awwam (Buku Kumpulan Syariat yang Pantas bagi Orang Awam), dan kitab Munjiyat (Buku tentang Penyelamat) yang merupakan saduran dari buku Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Imam Al Ghazali, Kitab Al Hikam (Buku tentang Hikmah), Kitab Lata’if at-Taharah (Buku tentang Rahasia Bersuci), Kitab Manasik al-Hajj, Kitab Pasalatan, Tarjamah Sabil Al-’Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid, Mursyid al Wajiz, Minhaj al-Atqiya’, Kitab hadis al-Mi’raj, dan Kitab Asrar as-Salah.Hingga kini Karya -karya beliau masih di baca di pondok-pondok pesantren Di jawa.
KH.Saleh daratmeninggal dunia pada tanggal 28 Ramadan 1321 H, atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1903 dan di makamkan dikomplek Pemakaman Umum Bergota Semarang.
setiap tanggal 10 Syawal, masyarakat dari berbagai penjuru kota melakukan haul Kiai Saleh Darat di kompleks pemakaman umum Bergota Semarang.

Metamorfosis Ramadhan


Dimuat di bulletin El-Wijhah Edisi XXV
Oleh : M. Zidni Nafi'
Kategori : Laporan Khusus

Seeokor ulat berbulu bergelayut di batang pohon. Sebab terpaan angin, ulat tadi tak mampu bertahan di dahan, hingga akhirnya si ulat bulu terjatuh. Namun arena ia memiliki jaring yang kuat, akhirnya tubuhnya tidak sampai terpelanting jatuh ke tanah. Cukup lama ia bergelayut, sementara angin masih berhembus menerpanya. Pada akhirnya, ulat lucu itu berhasil sampai ke tanah dengan posisi nyaman. Lalu langkahnya berjalan cepat dengan kaki-kakinya yang mungil, tubuhnya tampak bergeliat menggelikan.
Pelan tapi pasti, ulat itu terus naik kembali ke batang pohon,lalu berdiam diri hingga waktu yang cukup lama. Semakin lama ia berubah bentuk menjadi kepompong. Dalam jangka waktu sekitar 2 minggu, ulat yang menggelikan itu menjadi kupu-kupu cantik, imut dan menggelikan. Subhanallah… Sungguh indah makhluk ciptaan Allah. Si ulat bulu tadi menjalani prosedur metamorfosis dengan tertib dan taat. Andai saja ia menjalani prosedur seenaknya sendiri dan masa bodoh dengan prosedurnya, bisa dipastikan akan gagal.
Nah, Ramadhan kali ini hadir sebagai ladang berubah dan memetik manisnya pahala. Setelah niat direncanakan dengan matang, mari saatnya mengikuti prosedur yang ada. Mengapa harus demikian? Sebab itulah aturan main untuk menjadi sang juara sejati.
Allah Ta’ala memerintahkan kepada hambanya yang beriman  untuk berpuasa. Tidak hanya berpuasa untuk menahan haus dahaga, melainkan untuk menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa. Hingga Profesor pakar kimiapun tidak berani membuat eksperimen dengan sembarangan, apalagi tanpa mengikuti takaran yang telah ditentukan kelebihan dan kekurangan bahan yang dapat beresiko tinggi yang tidak diinginkan. Rugi, jika berpuasa tapi perbuatan dilakukan tangan, kaki, mata, telinga, hati dan organ tubuh lainnya masih berbuat maksiat dengan enjoy. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ
Artinya : “Banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali haus dan lapar”.
Maha suci Allah yang membentangkan luasnya hamparan pahala di bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ridho. Alangkan ruginya bila wadah penampungnya kecil untuk menampung banyaknya curahan pahala. Dan alangkah beruntungnya bila wadah yang disiapkan lebih besar, yaitu dengan totalitas dan maksimal sungguh-sungguh dalam menjalani ibadah yang lebih meningkat dari biasanya.
Sedikit orang yang benar-benar memnfaatkan bulan Ramadhan sebagai kesempatan untuk meraup emas pahala dan menghapus lumuran dosa dengab cara yang benar. Tiada salahnya jika ada peningkatan ibadah di bulan Ramadhan, dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Sebagian kaum muslimin mungkin terjadi salah kaprah. Bulan suci Ramadhan yang semestinya dijadikan ajang untuk meningkatkan ketaqwaan, malah jauh-jauh hari menyusun sederet agenda kegiatan yang dapat merusak konsentrasi ibadah seorang hamba terhadap Tuhannya. Meskipun kadang kali

Jumat, 05 Agustus 2011

Hal Yang Membatalkan Puasa

Dimuat di bulletin El-Wijhah Edisi XXV

Oleh: M. Rifa’i
Kategori: Analisa

Banyak orang-orang beranggapan bahwa puasa adalah hanya menahan dahaga, haus serta hal-hal yang membatalkannya. Anggapan tersebut memang benar, namun disamping itu perlu diketahui bahwa hal-hal yang membatalkan puasa dapat dilihat dari dua segi. Pertama, yaitu dari segi hakikat (yang membatalkan puasa itu sendiri), yaitu orang yang batal puasanya masih berkewajiban untuk meng-qodlo'nya. Hal-hal tersebut diantaranya :
- Menyengaja memasukkan sesuatu kedalam jauf (anggota tubuh yang mempunyai lubang). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ اَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا اَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ    )مُتَّفَقٌ عَلَيْه(
"Barang siapa lupa, sedangkan ia dalam keadaan berpuasa, lalu ia makan atau minum. Maka seyogyanya ia menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah lah yang memberikan ia makan dan minum.  (HR. Muttafaqun 'alaih)
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa seorang yang berpuasa, lalu ia makan atau minum dalam keadaan lupa maka puasanya tidak batal.
- Muntah  dengan sengaja.
- Bersenggama dengan sengaja.
- Mengeluarkan sperma dengan sengaja seperti onani dan masturbasi.
- Mengeluarkan darah haid.
- Nifas.
- Gila.
- Murtad (keluar dari agama islam).
Kedua, dilihat dari segi  hal yang membatalkan pahala puasa diantaranya ada sebuah hadits mengatakan:
خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ اَلْكِذْبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ
"Ada lima hal yang membatalkan puasa yaitu berbohong, ghibah, adu domba, sumpah palsu, melihat (sesuatu) dengan syahwat".
Hadits di  atas menjelaskan hal-hal yang membatalkan pahala puasa, dalam arti orang tersebut kelak tak akan mendapat apa-apa atas puasa yang ia lakukan melainkan, jadi hanya lapar serta haus yang ia peroleh. Rinciannya sebagai berikut :
1.  Berbohong (mengatakan sesuatu yang tidak sebenarnya).
          Terkadang seseorang  tak sadar sedang melakukan kebohongan, baik kecil maupun besar. Perbuatan tersebeut dilakukan sebab tidak dapat menjaga lisan dari perbuatan negatif. Ada sebait nadhom berbunyi :
اِحْفَظْ لِسَانَكَ وَاسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهِ  ÷  اِنَّ اللِّسَانَ هُوَ الْعَدُو وَالذَّابِحُ
“Jagalah lisanmu dan minta perlindungalah (kepada Allah) dari kejelekannya. Sesungguhnya mulut adalah musuh yang dapat mencelakakan.”
Banyak orang-orang celaka sebab tak bisa menjaga lisan. Permusuhan dan perkelahian bahkan pembunuhan banyak terjadi karena seseorang tak dapat menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang menyinggung perasaan orang lain. Allah menciptakan mulut adalah supaya dipergunakan untuk berdzikir, membaca Al Qur’an serta  memberi nasehat-nasehat yang bermanfaat bagi orang lain. Alangkah baiknya lisan  yang dipergunakan untuk hal-hal demikian. Lebih-lebih dibulan yang suci ini, dimana Allah akan melipat gandakan amal-amal kebaikan.
2. Ghibah (menceritakan kejelekan orang lain).
          Ghibah merupakan perbuatan yang sangat tercela. Sampai- sampai diibaratkan di dalam Al Qur’an  Surat Al Hujurat ayat 12, “bahwa orang-orang menceritakan kejelekan orang lain sama saja orang tersebut memakan daging saudaranya sendiri yang sudah menjadi bangka”i. Introspeksi diri lebih baik daripada membeberkan aib orang lain. Pepatah mengatakan “Gajah dipelupuk mata tak tampak, semut diseberang lautan tampak.”
3. Adu domba.
          Tujuan adu domba tidak lain adalah memecah belah orang-orang yang di adu domba. Perbutan ini diancam oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk itu  tidak akan masuk surga kecuali jika mendapat ampunan dari Allah.
4. Sumpah Palsu.
Di zaman sekarang memegang kejujuran bagaikan menggenggam bara api. Banyak pedagang-pedagang bersilat lidah demi merauk keunntungan yang besar. Cara demi cara dilakukan tidak peduli orang lain rugi dan tak mau tahu apa efek yang ditimbulkan, seperti mengurangi timbangan, mengatakan yang tidak sesuai kenyataan, bahkan ada pula yang sampai bersumpah demi keuntungan.
5. Melihat sesuatu dengat syahwat.
          Manusia merupakan makhluk yang diberi akal dan syahwat yang harus dijaga dari perbuatan-perbuatan negatif. Rasulullah pernah ditanya para Sahabat nabi mengenai jihad. “Wahai rasul jihad apakah yang paling berat? Lalu Rasulullah menjawab, jihad yang paling berat adalah jihad memerangi nafsu”. Meskipun berat tapi harus tetap diperangi dengan meminta perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari nafsu yang mengajak kepada kemaksiatan.
Kelima hal tersebut dapat membatalkan pahala puasa. Sungguh kerugian besar bagi orang-orang yang berpuasa tapi masih melakukan kemaksiatan-kemaksiatan. Kelak tak akan mendapat apa-apa kecuali lapar dan haus. Semoga dengan ini kita mampu meraup berjuta-juta manisnya pahala di bulan Ramadhan. Amin.

Referensi : Syarah Bidayatul Hidayah





Kamis, 04 Agustus 2011

Ramadhan... Delima Rukyah Dan Hisab

Dimuat di bulletin El-Wijhah Edisi XIX
Oleh : Ikhwal
Kategori : Laporan Utama

Jujurlah  pada dirimu sendiri mengapa kamu selalu mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh ampunan.
Apakah hanya menirukan nabi ataukah dosa-dosa dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu berucap begitu.
Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu, darimu hanya untuknya (ramadhan), dan dia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkanya kepadamu, semua yang khusus untuknya, khusus untukmu.
Ramadhan adalah bulan-Nya yang diserahkan-Nya kepadamu, dan bulan, serahkanlah semata-mata hanya pada-Nya.
Bersucilah untuk-Nya, bershalatlah untuk-Nya, berpuasalah untuk-Nya, berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya.
Penggalan puisi dari Gus Mus tersebut sedikit memproyeksikan bagaimana menyikapi bulan Ramadhan di mata manusia awam, karena memang sesungguhnya Ramadhan adalah bulan antara diri manusia dan penciptanya.
Puasa merupan amalan yang wajib dijalankan ketika  bulan Ramadhan, yaitu ibadah yang tidak dapat diketahui orang lain, selain diri  sendiri dan penciptanya.
Sebagaimana yang telah tersirat dalam hadist yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ مَا شَاءَ اللَّهُ يَقُولُ اللَّهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
حاشية السندي على ابن ماجه -ج 3 / ص 411)
Artinya: “Tiap-tiap amal anak cucu adam, akan dilipatkan kebagusannya sepuluh kali  hingga sampai tujuh ratus kali lipat kebagusannya, sesuai apa yang dikehendaki Allah. Allah berfirman, kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa tersebut untuk Aku, dan Akulah yang membalasnya”.
Pengenalan Ramadhan
Menurut arti etimologi Ramdhan berasal dari bahasa arab romidho yang berarti musim panas, karena bulan Ramadhan biasanya bertepatan dengan musim panas. Di Timur Tengah, para masyarakatnya biasanya menyambut bulan ramadhan dengan penuh keceriaan, hal tersebut diindikasikan dengan dihidupkannya lampu-lampu untuk menunjukkan bahwa bulan Ramadhan telah tiba.
Beda halnya dengan di Indonesia, biasanya masyarakat Indonesia menyambut bulan Ramadhan dengan pergi ke makam para ahli kuburnya untuk mendoakan agar dosa para ahli kubur tersebut diampuni. Lalu bagaimana mengetahui hari awal bulan Ramadhan? Untuk penetapan awal bulan Ramadhan harus melewati beberapa prosedur, yaitu harus ada wujud rukyah (melihat bulan) yang dilakukan oleh satu orang adil dan ada proses tazkiyyah (pembersihan) yang artinya dua orang yang menjadi saksi terhadap rukyah tersebut harus benar-benar adil, dan harus ada sidang  isbat (penetapan dari pemerintah) bahwa akan datangnya bulan Ramadhan. Sesuai dengan hadist yang berbunyi :
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ
فتح الباري لابن حجر - (ج 6 / ص 148)
Artinya : “Berpuasalah kalian semua, karena terlihatnya hilal, dan janganlah berpuasa karena terlihatnya hilal dan apabila terhalang-halangi dengan mendung, maka jumlah hari bulan Sya’ban sampurnakanlah”.
Beberapa Kontroversi dalam Ramadhan
            Ketika  bulan Ramadhan, kebanyakan orang masih memperselisihkan tentang penetapan awal bulan dan rakaat dalam shalat tarawih, sampai-sampai terjadi perbedaan diantara umat Islam.
Mengenai penetapan awal bulan, menurut  Bapak Muhammad Naf’an, seorang staf pengajar di madrasah Qudsiyyah, beliau berpendapat bahwa penetapan awal Ramadhan itu memakai sistem rukyah dan hisab. Tetapi yang  diunggulkan adsalah sistem rukyahnya. Namun  ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa ketika bertentangan antara rukyah dan hisab, maka lebih diunggulkan rukyahnya, tapi seingat beliau qoul tersebut dhoif.  Jadi qoul dhoif tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum yang bersifat ibadah.
Menurut perspektif fiqih , ketika ada orang yang melihat hilal dan orang tersebut mempercayai bahwa itu memang benar-benar hilal, maka orang tersebut berkewajiban untuk untuk memulai puasa, tapi kalau sudah ada isbat (penetapan) dari pemerintah maka seluruh rakyatnya wajib mengikuti peraturan pemerintah.
            Sedangkan untuk shalat tarawih, menurut beliau pada aqidah ahlussunnah waljamaah, shalat tarawih itu dilakukan 20 rakaat dan sholat witir 3 rakaat jadi menjadi 23 rakaat. Untuk perdebatan masalah ini, pertentangan tersebut bersifat ijtihad (penetapan).
Melihat sejarah yang ada, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alai wasallam pernah melakukan shalat sunnah saat bulan Ramadhan di masjid, ternyata para Sahabat melihatnya, lalu berbondong-bondong mengikuti shalatnya  Rasulullah, dan memang pada waktu itu Rasulullah melakukan shalat tarawih 11 rakaat. Sehingga pada waktu selanjutnya Rasulullah melakukan shalat tarawih di rumah.
Maka dari itulah menilmbulkan kontroversi, apakah shalat terawih dilakukan 11 atau 23 rakaat, tapi yang jelas Rasulullah pada saat shalat di masjid menggunakan 11 rakaat. Dalam bebarapa hadist ditemukan kalau shalat tarawih dilakukan 23 rakaat, hal ini dapat dilihat dalam kitab kashfuttabareh karangan Mbah Fadhol Sanori.
Sehingga pada waktu sayyidina Abu Bakar belum di legal formalkan, shalat tarawih dilakukan sendiri-sendiri dalam arti belum ada penetapan mengenai rakaat shalat tarawih. Sedangkan pada waktu sayyidina Umar menjadi khalifah, beliau memerintahkan seorang ahlu qurro’ untuk melakukan shalat tarawih di masjid dengan 23 rakaat.
Oleh sebab itu di dalam permasalahan ini dikategorikan sebagai bid’ah, tapi bukan bid’ah dholalah melainkan bid’ah syar’i , sebab bid’ah yang satu ini merupakan bid’ah yang boleh dilakukan.
Hal-hal yang dikira Membatalkan Puasa
            Dalam kasus ini, hal yang dikira membatalkan puasa ternyata tidak membatalkan puasa dan sebaliknya, adalah seperti menggunakan obat mata atau meneteskan obat mata, hal itu ternyata tidak membatalkan puasa. Walaupun rasa obat mata tersebut sampai ke dalam tenggorokan, dikarenakan mata tidak dikategorikan manfat (jalan dalam anggota tubuh yang bisa menerus).
Dan jika flashback kembali ke masa kecil, biasanya orang-orang menganggap kalau maqmadhoh (berkumur) dan ishtinshak (menyedot air ke lubang hidung) membatalkan puasa. Sebenarnya jika selama tidak mubalaghoh (menyerukan) maka tidak membatalkan puasa, walau ada air yang masuk dikarenakan adanya qoidah fiqhiyah الرِّضَى بِالشّيئ رِضَا بِمَا يَتَوَلَّدُ مِنْهُ .
Misteri di balik datangnya bulan yang penuh berkah tersebut memang luar biasa, dan merupakan anugerah dari yang Maha Esa kepada ciptaannya, supaya dapat lebih meningkatkan ketaqwaan. Sebagai ciptaan dari yang Maha menghidupkan dan mematikan, seharusnya bukan hanya menghormati akan datangnya bulan tersebut dengan istirahat maksiat sementara, tapi alangkah baiknya jika terus berlatih untuk meninggalkan maksiat, dan berusaha untuk lebih dapat bertaqwa kepada Ilahi robbi.