Jumat, 29 Juli 2011

Syekh Nawawi Al-Bantani


Dikutip dari Bulletin El-Wijhah Edisi XXII
Kategori : Profil

Syekh Nawawi Al-Bantani dilahirkan pada tahun 1230 H/ 1813 M, di kampung Tanara, Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang, Banten, Jawa Barat. Beliau berasal dari keturunan Seorang Tokoh agama yang sangat disegani , ayahnya bernama KH.Yahya adalah cucu dari Sunan Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati Cirebon.
Syekh Nawawi sejak kecil telah diarahkan ayahnya yaitu KH. Umar yang sehari-harinya menjadi penghulu Kecamatan Tanara dan pemimpin masjid, kemudian Nawawi di serahkan kepada KH. Sahal, ulama terkenal di Banten. Usai dari Banten, Nawawi melanjutkan pendidikannya kepada Kyai Yusuf ulama besar Purwakarta.
Ketika berusia 15 tahun syeh Nawawi pergi ke Tanah Suci bersama saudaranya untuk menunaikan ibadah haji. Tapi, setelah musim haji usai, ia tidak langsung kembali ke tanah air.karena Dorongan menuntut ilmu menyebabkan ia bertahan di Kota Suci Mekkah untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama besar Negara asing , seperti Imam Masjidil Haram Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati dan Ahmad Zaini Dahlan.
Tiga tahun lamanya ia menggali ilmu dari ulama-ulama Mekkah. Setelah merasa bekal ilmunya cukup, segeralah ia kembali ke tanah air, lalu mengajar dipesantren ayahnya. Namun, kondisi tanah air tidak menguntungkan pengembangan ilmunya. Saat itu, hampir semua ulama Islam mendapat tekanan dari penjajah Belanda. Keadaan itu tidak menyenangkan hati Nawawi. karena keinginannya menuntut ilmu di negeri yang telah menarik hatinya, begitu berkobar.
Akhirnya, kembalilah Syekh Nawawi ke Tanah Suci. Kecerdasan dan ketekunannya mengantarkan ia menjadi salah satu murid yang terpandang di Masjidil Haram. Ketika Syekh Ahmad Khatib Sambas uzur menjadi Imam Masjidil Haram, Syekh Nawawi ditunjuk menggantikannya. Sejak saat itulah ia menjadi Imam Masjidil Haram dengan panggilan Syekh Nawawi al-Jawi. Selain menjadi Imam Masjid, ia juga mengajar dan menyelenggarakan halaqah bagi murid-muridnya yang datang dari berbagai belahan dunia. Di antara muridnya yang berasal dari Indonesia adalah KH. Kholil Madura, K.H. Asnawi Kudus, K.H. Tubagus Bakri, KH. Arsyad Thawil dari Banten dan KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang. Mereka inilah yang kemudian hari menjadi ulama-ulama terkenal di tanah air.
Syekh Nawawi Dikenal sebagai ulama dan pemikir yang memiliki pandangan dan pendirian yang khas, Syekh Nawawi amat konsisten dan berkomitmen kuat bagi perjuangan umat Islam. Ia lebih suka memberikan perhatian kepada dunia ilmu dan para anak didiknya serta aktivitas dalam rangka menegakkan kebenaran dan agama Allah SWT.
Dalam bidang syari’at Islamiyah, Syekh Nawawi mendasarkan pandangannya pada dua sumber inti Islam, Alquran dan Al-Hadis, selain itu juga Ijma’ dan Qiyas. Empat pijakan ini seperti yang dipakai pendiri Mazhab Syafi’iyyah, yakni Imam Syafi’i. Mengenai Ijtihad dan Taklid, Syekh Nawawi berpendapat, bahwa yang termasuk mujtahid mutlak adalah Imam Syafi’i, Hanafi, Hanbali, dan Maliki. Bagi keempat ulama itu, katanya, haram bertaklid, sementara selain mereka wajib bertaklid kepada salah satu keempat imam mazhab tersebut.Pandangannya ini mungkin agak berbeda dengan kebanyakan ulama yang menilai pintu ijtihad tetaplah terbuka lebar sepanjang masa. Barangkali, bila dalam soal mazhab fikih, memang keempat ulama itulah yang patut diikuti umat Islam kini.Sejak 15 tahun sebelum kewafatannya, Syekh Nawawi sangat giat dalam menulis buku. Ia termasuk penulis yang produktif dalam melahirkan kitab-kitab mengenai berbagai persoalan agama. Karya–karyanya meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari’ah, tafsir, dan lainnya. Di antara buku yang ditulisnya adalahi Tafsir Mirah Labid , Uqudul Lijan Nihayatuz Zain , Mirqatus Su’udit Tashdiq, Tanqihul Qoul, syarah Kitab Lubabul Hadith nya Imam Suyuthi.Adapun Kitab Hadits lain yang sangat terkenal adalah Nashaihul Ibad, syarah dari kitabnya Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Sebagian karyanya tersebut diterbitkan di Timur Tengah. Dengan Kemasyhurannya dan karya-karyanya ini, ia mendapat gelar : A’yan ‘Ulama’ al-Qarn aI-Ra M’ ‘Asyar Li al-Hijrah, AI-Imam al-Mul1aqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz.
Di saat menulis syarah kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghozali, lampu minyak beliau padam, padahal saat itu sedang dalam perjalanan dengan sekedup onta, di jalan pun Beliau tetap menulis. Beliau pun berdoa, bila kitab ini dianggap penting dan bermanfaat buat kaum muslimin,Ia mohon kepada Allah SWT memberikan sinar agar bisa melanjutkan menulis. Tiba-tiba jempol kakinya mengeluarkan api, bersinar terang, dan beliau meneruskan menulis syarah itu hingga selesai. Dan bekas api di jempol tadi membekas, hingga saat Pemerintah Hijaz memanggil beliau untuk dijadikan tentara, ternyata beliau ditolak, karena adanya bekas api di jempol tadi.
Waktu terus bergulir sehingga Syeh Nawawi harus memenuhi panggilan Allah pada tanggal 25 Syawal 1314./ 18 Dalam usia 84 tahun di Syeib A’li, sebuah kawasan di pinggiran kota Mekkah.


Metode Da’wah Walisongo


Dimuat di bulletin El-Wijhah Edisi XXII
Oleh : Fakhur Rozaq
Kategori : Referensi  Buku Sejarah Islam Di Indonesia

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi hindu-budha, untuk digantikan dengan budaya islam. Walisongo dikenal sebagai simbol penyebar agama islam di Indonesia khususnya di tanah jawa pada abad ke 15 dan 16. Tentunya banyak tokoh lain yang berperan menyebarkan agama islam. Namun, peranan Walisongo lah yang sangat besar dalam menyebarkan agama islam dan mendirikan kerajaan islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat luas, serta da’wah secara langsung membuat para Walisongo ini lebih banyak dikenal disbanding yang lain.
Para Walisongo melakukan metode da’wah dengan cara memasukkan ajaran-ajaran islam kedalam adat istiadat yang sudah ada dalam masyarakat itu sendiri. Da’wah Walisongo itu meliputi beberapa metode yang sesuai firman Allah :
ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي احسن
Artinya : “Serulah (Manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.
Dari ayat tersebut dapat di pahami prinsip umum tentang metode da’wah yang menekankan 3 metode da’wah, yaitu :
1.      Metode Hikmah, menurut Syeikh Musthofa Al-Maroghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa hikmah yaitu perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang dapat mempertegas kebenaran dan dapat menghilangkan keraguan.
2.      Metode Mauidloh Chasanah, menurut Ibnu Sayyidiqi adalah menasehati dan mengingatkan kepada orang lain, dengan pahala dan siksa yang dapat menaklukan hati orang lain.
3.      Metode Mujadalah atau Diskusi, menurut Imam Ghozali dalam kitab Ikhya’ ‘Ulumuddin menegaskan agar orang-orang yang melakukan tukar fikiran itu tidak beranggapan bahwa yang satu sebagai lawan yang lainnya. Tetapi, mereka harus menganggap bahwa pelaku Mujadalah atau Diskusi itu sebagai kawan yang saling tolong-menolong dalam mencapai kebenaran.
Inilah antara lain pendapat sebagian Mufassirin tentang tiga metode tersebut.
Ketiga metode tersebut diaplikasikan kedalam beberapa pendekatan, diantaranya :
1.      Pendekatan Personal, yaitu: pendekatan dengan cara individual antara Da’I (Narasumber) dan Mad’u (Pendengar) langsung bertatap muka sehingga materi yang disampaikan langsung diterima dan biasanya reaksi yang ditimbulkan Mad’u (pendengar) akan langsung diketahui.
2.      Pendekatan Pendidikan, yaitu : da’wah lewat pendidikan, dilakukan beriringan dengan masuknya islam ke Indonesia khususnya di tanah Jawa.
Dan dari metode tersebut dapat dicontohkan seperti Sunan Kalijaga, memanfaatkan wayang sebagai sarana da’wah menyebarkan agama islam di nusantara, kesenian wayang bukan sembarang kesenian, wayang mengandung nilai filosofis, religious dan pendidikan.
Dengan kesenian wayang, Sunan Kalijaga berhasil menarik perhatian masyarakat luas. Hal itu membuat mereka tertarik untuk memeluk agama islam dengan kesadaran dan kemauan sendiri. Sunan Kalijaga dikenal sebagai Ulama’ yang kreatif dan pendai menarik simpati masyarakat. Beliau banyak menciptakan cerita pewayangan yang bernafaskan islami. Misalnya, cerita berjudul Jamus Kalimasada, Wahyu Tohjali dll.
Disamping menciptakan cerita-cerita pewayangan, Sunan Kalijaga berhasil menciptakan peralatan perlengkapan dalam wayang, kelengkapan yang menyertai pementasan wayang seperangkat gamelan dan gending-gending jawa.
Pada masa itu, setiap akan diadakan pentas atau pagelaran wayang, terlebih dahulu Sunan Kalijaga memberikan wejangan atau nasehat ke islaman. Kemudian, mereka diajak mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan demikian, berarti mereka sudah menyatakan diri untuk masuk islam. Lama-lama mereka pun mau menjalankan ibadah sholat. Dengan cara demikian itu Sunan Kalijaga dapat memikat hati masyarakat sehingga islam cepat tersebar di masyarakat jawa, khususnya jawa tengah.
Coba kita menoleh kebelakang, bagaimana para Walisongo menyebarkan agama islam ditanah jawa. Para Walisongo dalam penyebaran dan pengembangan islam ditanag jawa ini dengan cara damai, tidak pernah mempergunakan cara-cara kekerasan. Bahkan Beliau-beliau itu sangat menghormati adat istiadat dan tradisi yang dipegangi masyarakat pada saat itu. Budaya lokal dikemas sedemikian rupa, lalu diisi simbol-simbol dan nilai-nilai yang berasal dari ajaran islam. Hasilnya, penyebaran sangat efektif dan mudah diterima secara damai tanpa adanya penolakan yang berarti.



Luwesnya Da’wah Dalam Tradisi


Dimuat di bulletin El-Wijhah Edisi XXII
Oleh : Ulil Albab
Kategori : Analisa

 Budaya merupakan suatu aspek kebiasaan yang sulit dihilangkan dari benak suatu peradaban masyarakat yang sudah melekat dalam jiwa, seperti halnya peradaban jawa yang sudah kental akan nuansa budaya tradisi dan dinasti kerajaan-kerajaan hindu-budha yang kuat.
Setelah fase kedatangan para saudagar arab maupun thionkok yang membanjiri pelabuhan di pantai utara jawa dalam prihal perdagangan dan menyebarkan agama islam yang disertakan para Ulama’ islam, lambat laun islam pun menyebar, mengikis idiologi kepercayaan masyarakat sebelumnya dan mulai menggerogoti kekuasaan kekaisaran hindu-budha yang mulai goyah.
Persepsi masyarakat yang mulai menganggap islam merupakan agama yang lurus, itu merupakan suatu keberhasilan Ulama’ dalam aspek berda’wah yang luwes dan berhasil menarik simpati masyarakat sampai ke pelosok daerah, Ulama’-ulama’ ini biasa disebut walisongo.
Inisiatif para Walisongo berda’wah dengan melihat kentalnya tradisi hindu-budha di masyarakat, sehingga beliau dituntut melakukan da’wah dengan bijak, menurut rector UIN Jakarta,” dengan para bijaknya penyebar islam menghargai akan tradisi luhur yang dijumpai sambil memperkenalkan ajaran Al-Qur’an, sehingga antara aspek agama dan budaya saling menopang dan saling mengisi, agama tidak bisa berkembang tanpa wadah budaya, dan budaya akan hilang arah dan ruh tanpa bimbingan agama.”
Seperti halnya tradisi sekaten yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, tradisi yang awal mulanya dikisahkan Sunan Kalijaga yang mempunyai keahlian menjadi seorang dalang, serta kesukaan masyarakat jawa akan adanya pertunjukkan wayang maupun tetabuhan.
Potensi yang itu dimanfaatkan Sunan Kalijaga untuk menggelar pertunjukkan wayang dan membuat gong yang besar dalam hal menarik perhatian, setelah masyarakat berkumpul, gong tidak ditabuh sebelum masyarakat mengucapkan Syahadatain, begitulah latar belakang dinamakan gong sekaten.
Sekaten merupakan suatu asas tradisi yang diwariskan walisongo untuk mensyi’arkan islam, pasalnya tradisi yang terus dilestarikan masyarakat Jogja maupun Solo itu mengandung filosofis tinggi, pasalnya da’wah para wali yang tidak dilakukan secara radikal tapi harus ada pendekatan, serta melihat kondisi masyarakat sekitar.
Seperti halnya lagi tradisi mitoni, pada awalnya ada yang beranggapan tradisi yang diwariskan walisongo tersebut merupakan Bid’ah. Tapi, bila ditelisik lebih mendetail lagi yang bertendensi pada sebuah hadits Nabi :
اِنَّ اَحَدَكُمْ ُيجْمَعُ خَلْقَهُ فِى بَطْنِ اُمِّهِ اَرْبَعِينَْ يَوْمًا..الحديث
ثُمَّ يُرْسَلُ اِلَيْهِ المُلْكُ فَيُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحِ

Setelah mencermati hadits diatas mengisyaratkan bahwasanya, seorang ibu yang sedang mangandung 4 maupun 7 bulan merupakan suatu masa fundamental bagi kelangsungan hidup di masa depan si jabang bayi. Secara teoritis, apakah tidak diperbolehkan berdo’a buat si jabang bayi dalam ritual tahlil mitoni, agar kelak bisa menjadi anak yang berguna bagi agama maupun Negara.
Kesimpulan dari semua teks diatas yaitu, berbagai corak metode da’wah yang digunakan Walisongo merupakan keluwesan da’wah yang ditujukan untuk menarik masyarakat agar mau masuk islam.
Metode da’wah Walisongo kita integrasikan di era sekarang perjuangan da’wah terhadap non muslim memanglah berat. Pasalnyan, zaman yang menyajikan ilmu pengetahuan, berkembang dengan pesat dan menghasilkan output manusia yang berintelektualitas tinggi. Sehingga, kita sebagai generasi penerus Walisongo dituntut lebih tangguh dari pemikiran filosofis non muslim dan siap menjawab akan pemikiran filosofis yang melenceng dari koridor luhur islam, sehingga kita bisa menggiring pemikirannya agar mau masuk islam yang lurus.


                                                                                   

Ketika Agama Dan Budaya Telah Terakulturasi


Dimuat di buletin ElWijhah Edisi XXII
Oleh : M. Ali Musta’an (xi b)
Kategori : Analisa

Seperti yang kita ketahui penyebar agama islam di tanah jawa adalah para ulama’ yang disebut Walisongo. Walisongo merupakan kumpulan wali yang berjumlah Sembilan, beliau menyebarkan islam di jawa dengan cara damai, luwes, dan tidak melakukan kekerasan. Semua itu dilakukan agar bisa menarik simpati dari masyarakat.
Strategi-strategi yang digunakan walisongo adalah :
1.      Membiarkan dulu adat istiadat dan kepercayaan yang sukar diubah, dan mereka (Walisongo) sepakat untuk tida menggunakan jalan kekerasan atau radikal untuk menghadapi masyarakat yang demikian.
2.      Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran islam tapi mudah diubah maka segera dihilangkan.
3.      Tut wuri handayani artinya mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat rakyat tetapi diusahakan untuk dapat mempengaruhi sedikit demi sedikit dan menerapkan prinsip tut wuri hangeseni, yang artinya mengikuti dari belakang samil mengisi ajaran islam.
4.      Menghilangkan konfrontasi secara langsung atau terjadinya kekerasan dalam menyebarkan agama islam.
5.      Tujuan utama mereka adalah merebut simpati rakyat, sehinga rakyat mau untuk diajak berkumpul, mendekat dan bersedia mendengarkan pembicaraan dari para Wali tersebut. Jadi, tidak diperbolehkan menghalau rakyat dari kalangan umat islam, melainkan berusaha menyenangkan hati mereka supaya mau mendekat kepada para Ulama’ atau para Wali.

Strategi ini diterapkan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati, yang diseut kaum abangan. Berbeda dengan kaum putihan, yang menjaa kemurnian islam dari sesuatu yang berbau syirik. Dan kaum abangan yang ingin mengajak masyarakat secepatnya untuk masuk islam, bila sudah masuk islamtinggal menyempurnakan iman mereka. Namun, atas inisiatif Sunan Kalijaga, kedua pendapat yang bereda tersebut isa dikompromikan.
Diantara Sembilan wali tersebut yang dijuluki budayawan (ahli budaya) adalah Sunan Kalijaga. Beliau menciptakan budaya untuk dijadikan sarana da’wah agar bisa lebih dekat dengan rakyat. Diantara ciptaan beliau adalah seni pakaian, seni suara, seni ukir, seni gamelan, bedug atau jidor di masjid, sebagai dalang dan ahli dalam tata kota. Tembang Lir-ilir adalah salah satu seni suara yang diciptakan beliau yang mengandung unsur da’wah dan ajakan untuk masuk islam.
Untuk memenuhi janji, Allah SWT dalam Al-Qur’an Karim yang berbunyi :
فضل الله المجاهدين على القاعدين اجرا عظيما
Artinya :”Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.”
Untuk mencari simpati rakyat para Wali lainnya juga melakukan hal-hal yang bisa meluluhkan mereka tanpa adanya kekerasan. Semisal, Sunan Kudus dating di Kudus masyarakatnya rata-rata beragama hindu-budha. Untuk mengajak masuk islam bukanlah suatu pekerjaan yang mudah harus kreatif dan tidak bersifat memaksa. Masyarakat hindu-budha adalah masyarakat yang mengkeramatkan sapi dan menganggap hewan suci kendaraan para dewa. Oleh karena itu, Sunan Kudus tidak menyembelih sapid an melarang kaum muslim Kudus. Karena itu isa melukai hati rakyatnya (Hindu-Budha). Bahkan tradisi ini masih berlaku sampai sekarang. Karena toleransinya yang tinggi Sunan Kudus juga memangun menara masjid mirip candi hindu.
Suatu hari Sunan Kudus mengundang masyarakat untuk mendatangi hajatnya. Sebelum masuk masjid masyaratkan disyaratkan membasuh kedua kaki dan tangan yang telah disediakan, yang lama-lama menjadi kebiasaan untuk berwudlu.
Dengan cara da’wah seperti inilah rakyat akhirnya terpanggil jiwanya untuk masuk islam dan berusaha mendidik keturunan-keturunannya dengan ajaran islam. Berbeda dengan Asia Barat, Afrika dan Eropa (Andalusia), yang penyebaran islam disana dilakukan penaklukan atau kekerasan. Akhirnya, islam disana rubuh, karena masih adanya suatu kelompok yang masih belum bisa menerima dan masih mentimpan dendam terhadap kedatangan islam akibat kekerasan yang dulunya telah terjadi.

Tetap Sah Dengan Najis

Kategori : Fiqih

Najis yang dima’fu (diampuni keberadaanya), merupakan najis yang terlepas sebagai penghalang sahnya sholat. Berbeda dengan hukum najis yang asli yang menurut syara’ adalah segala kotoran yang menghalangi sahnya sholat dan tidak dalam keadaan keringanan secara syara’. Dalam bab sholat, najis termasuk salah satu perkara yang membatalkan sholat. Namun, tidak berarti jika sholat batal maka wudlu pun ikut batal, karena perkara yang membatalkan wudlu dengan perkara yamg membatalkan sholat itu berbeda, dan najis tidak termasuk dalam kategori yang membatalkan wudlu. Adapun cara penyucian atas najis adalah  membasuhnya hingga merata, jika najis tadi tidak termasuk najis mugholadzoh 
Dasar alasan yang dominan atas dima’funya najis adalah sulitnya menghindari najis tersebut, ada salah satu kaidah fikih yang menerangkan bahwa:
المشقة تجلب التيسير
Yang artinya: “kesulitan itu dapat menarik kemudahan”.
Oleh karena itu kesulitan dalam mengindari najis ini, menjadi dispensasi dari hukum syara’ atau dengan kata lain najis tadi dima’fu.
Najis yang dima’fu tadi digolongkan menjadi 3 kelompok ,antara lain:
1. Di ma’fu pada pakaian dan air, ialah najis yang tidak tampak oleh indra mata atau biasa di sebut dengan najis hukmy.
2. Dima’fu pada air bukan pakaian,seperti bangkai yang tidak memiliki darah
yang mengalir seperti bangkai nyamuk, sehingga jika terkena pakaian pada waktu melaksanakan sholat, maka sholatnya tidak sah.
3. Dima’fu pada pakaian bukan air ialah sedikit dari darah.
Kategori yang ke tiga tadi terbagi menjadi beberapa kelompok, antara lain:
a.sejenis darah serangga yang darahnya tidak mengalir, misalnya nyamuk. Bangkai nyamuk dihukumi najis tetapi darahnya berhukum ma’fu, karena bangkai nyamuk tidak termasuk kategori hewan yang dianggap suci (selain bangkai ikan, belalang, dan manusia).
b. Darah sejenis kudis misalnya bisul dan nanah.
c. Sedikit darah yang keluar dari manusia atau hewan (selain babi dan anjing).
d. Darah yang keluar dari hasil bekam (canthok dalam istilah jawanya) walaupun darahnya banyak, namun apabila ada yang  tertinggal ditempat luka tadi maka hukumnya dima’fu.
e. Bebas dari najis sesudah bersuci memakai batu (istijmar),  noda kotoran lalat, air kemih, dan kotoran kelelawar, bila bekas tadi mengenai tempat sholat, pakaian maupun badan disertai dengan jumlah yang banyak.
f. Kotoran burung yang kering dan memenuhi tempat ibadah sehingga sulit menghindarinya.
g. Sedikit lumpur yang berada di tempat yang mengalir yang diyakini najisnya selagi benda najisnya tidak tampak dengan jelas. Namun tentang pengampunan adanya najis itu, dibedakan sesuai dengan waktu dan tempatnya,mengenai pakaian atau badan.
Dari penjabaran diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ketika orang islam kesulitan mengatasi suatu hukum maka diambil jalan yang ringan saja yang sesuai dengan ketentuan syara’, dengan berpedoman pada firman Allah:
يريد الله بكم اليسرولايريد بكم العسر
Yang artinya : “ Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, bukan kesukaran....” (Al Baqarah).
***
Oleh : M. Fahruddin di buletin El Wijhah '11
Refrensi : 
Kitab Fathul Mu’in
Kitab Nihayatuz Zain
Kitab Hidayatut Tholabah

Jalan Menuju Cinta Berpahala

Manusia di dunia ini tidak bisa hidup tanpa cinta, karena manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, yang tak lepas dari kasih sayang, saling membantu, dan saling mencintai. Sebuah kata yang dianggap sakral oleh banyak kalangan. Namun sejatinya cinta memang telah menjadi fitrah manusia.
Ketika Nabi Adam diciptakan, beliau merasa kesepian. Maka Allah menciptakan Hawa sebagai pendamping. Rasa ingin dicinta dan mencintai merupakan naluri manusia, sebab setiap manusia mempunyai cinta yang dapat diaplikasikan dalam berbagai hal. Tapi terkadang, sebagian besar manusia tidak bisa menjelaskan maksud dari cinta itu sendiri.
Begitu luasnya definisi cinta, sehingga banyak menimbulkan sudut pandang yang berbeda, hingga menimbulkan kontroversi dan pro-kontra. Lalu bagaimanakah definisi cinta? 

DEFINISI CINTA
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, cinta adalah hubungan antara pria dan wanita, berdasarkan kemesraan tanpa ikatan yang berdsarkan adat hukum yang berlaku. Dari definisi ini, tujuan cinta lebih condong ke lawan jenis atau antar sesama manusia .
Lain lagi menurut Ustadz H. Ashfal Maula S.Pd.I (pengamat sastra), “cinta adalah disaat dia jauh, aku merasa dekat, dan disaat dia dekat aku merasa nyaman,” tutur beliau ketika ditanyakan tentang definisi cinta. Dalam pernyataan ini, beliau menjelaskan bahwa pengertian cinta yang beliau utarakan bersifat umum. Artinya cinta tidak hanya terhadap sesama manusia saja , namun bisa juga cinta terhadap  hal apapun.
“cinta harus buta,” imbuh beliau, menjelaskan lagi tentang cinta. Dalam pernyataan tadi, cinta harus buta,yang dimaksud “buta” di sini bukanlah membutakan segalanya, tetapi buta yang tidak mempedulikan omongan orang lain, seolah-olah membutakan indra dari kenyataan yang ada. Berarti dalam mencintai sesuatu, penglihatan yang digunakan adalah hati.  Jika belum mencintai lewat hati, maka belum dikatakan cinta, tetapi hanya bersifat rasa suka saja. Karena rasa suka hanya tercerna pada otak. Sedangkan rasa cinta yang sesungguhnya adalah berdasar dari hati. Beliau mencontohkan kisah cinta Siti Zulaikha kepada Nabi Yusuf. Latar belakang Nabi Yusuf sebagai seorang budak di istana kerajaan. Sedangkan Siti Zulaikha yang notabene pada zamannya adalah sebagai seorang ratu. Hal ini membuktikan bahwa cinta Siti Zulaikha kepada Nabi Yusuf bersumber dari hati, bukan hanya lewat pandangan mata saja.
Beliau menambahkan lagi, bahwa tanda-tanda cinta adalah ikhlas, jujur, memberi, membutuhkan, tidak bisa dipaksa, dan saling percaya.
”Cinta itu Adam dan Hawa, Yusuf dan Zulaikha, Ibrahim dan Saroh, Baginda Muhammad dan Khodijah. Cinta itu perasaan Zainab kepada Nabi Muhammad. Cinta itu antara aku dan dia, tak ada orang kedua. Cinta itu bukan di otak, juga bukan di rekening , bukan juga di situ (sambil menunjuk kitab-kitab di meja), tetapi  cinta itu ada di sini (sambil menunjuk di hati),” terang beliau  menguatkan lagi tentang apa itu cinta, lewat contoh realita yang pernah terjadi.
Sedangkan definisi cinta menurut al Qur’an adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam amalan lahiriyyah. Allah berfirman dalam surat al Hujarat ayat 7 :

أَنَّ وَاعْلَمُوا فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Artinya : “Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah daam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (Q.S al Hujurat : 7 ).
Surat tersebut menerangkan lagi bahwa cinta itu memang terdapat dalam hati. Cinta merupakan dasar tauhid. Bahkan ada salah satu ulama’ mengatakan bahwa tidak akan sempurna tauhid (iman) kecuali bila kecintaan seorang hamba
kepada Rabb-nya juga sempurna. Allah berfirman dalam surat al Baqarah ayat 165:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّه
وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Artinya: “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain allah sebagai tandingan. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada allah sekiranya orang-orang yang berbuat dzolim itu melihat, ketika mereka melihat adzab (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah, dan Allah sangat berat adzabnya.” (Q.S al Baqarah : 7)

Al Quran juga mendefinisikan cinta menjadi 8 macam :
Pertama, cinta mawaddah yaitu jenis cinta menggebu-gebu, membara dan "nggemesi.” Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah,sifatnya ingin selalu bersama dengan orang yang dicinta. 
Kedua, cinta rahmah yaitu jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap dirinya sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari hal itu maka dalam al Qur'an ,kata kerabat disebut dengan dzawil arham, yakni orang-orang yang memiliki hubungan darah. Lain lagi mengenai cinta antara suami-istri, cinta ini diikat oleh cinta mawaddah dan dan rahmah.
Ketiga, cinta ra'fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk shalat, membelanya meskipun salah.
Keempat, cinta syaghaf, yaitu cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur'an mengkisahkan tentang hak ini dengan kisah cinta seorang ratu mesir yaitu Siti Zulaikho kepada Nabi Yusuf.
Kelima, cinta mail, yaitu jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian. Cinta jenis mail ini dalam al Qur'an disebut dalam konteks orang poligami, di mana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda, cenderung mengabaikan kepada yang tua.
Keenam, cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur'an menyebut termasuk cinta ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon untuk dimasukkan ke dalam penjara), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf akan tergelincir juga dalam perbuatan maksiat.
Ketujuh, cinta syauq (rindu). Definisi  cinta ini bukan dari al Qur'an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur'an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5, dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Menurut Ibnu Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih, dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta.
Kedelapan, cinta kulfah. yaitu perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur'an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.
Ada salah seorang ahli pendidikan menyimpulkan , bahwa cinta itu tak kenal yang namanya patah hati, cemburu, sengsara, cari keuntungan, dan pamrih. Seperti pada zaman Rasulullah SAW, yang terjadi pada para Sahabat Anshar , mereka rela memberikan harta benda, rumah, hingga istripun diberikan kepada para Sahabat Muhajirin, yang hijrah dari kota Makkah ke kota Madinah. Mencitai seseorang ibarat orang beramal, tanpa pamrih dan tidak mengharapkan apa-apa. 
Dari berbagai sumber tadi yang mendefinisikan apa itu cinta, pastinya akan menuai pro-kontra. Satu sama lain mempunyai sudut pandang  yang berbeda.  Dan akan sulit menemukan titik  temu dalam pendefinisian cinta  yang sejati. Garis besarnya dapat disimpulkan bahwa cinta tidak ada unsur dusta, dan tidak ada unsur pemaksaan, sebab cinta bersumber  dari dalam hati.  Tidak ada rekayasa dalam menjalani  sebuah hubungan cinta.

HAKIKAT CINTA
Allah menciptakan manusia karena cinta. Nabi Muhammad SAW diutus kepada manusia juga karena cinta. Manusia mencintai Allah untuk mendapatkan ridlonya. Apabila cinta tersebut  sesuai dengan  apa yang diridloi Allah, maka cinta itu akan menjadi sebuah ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan-Nya, maka akan menjadi perbuatan maksiat.
Berarti jelas, bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila salah menempatkannya akan menjatuhkan manusia ke dalam sesuatu yang dimurka oleh Allah. Seperti dalam firman Allah pada surat al Imron ayat 31 :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya :
Katakanlah ( Muhammad), “jika kamu mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu.” Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (Q.S. al Imron ayat : 31).
Tujuan cinta tidak hanya terhadap manusia saja, namun  cinta layaknya dikembalikan kepada yang memberi cinta, yaitu Allah Ta'ala. Sebab pada hakikatnya, cinta mutlak bersumber dari Allah. Cinta yang dibangun karena Allah, akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Cinta yang hanya dimiliki oleh seorang hamba yang taat menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
***
Oleh : M. Zidni Nafi di buletin El Wijhah '11

Referensi :
1. Kamus Besar  Bahasa Indonesia.
2. Kamus Al Munawwir.
3. Kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin
4. Madarijus salikin.
5. Al Qur'anil karim.
6. www.asysyariah.com

Rabu, 27 Juli 2011

CAHAYA ILMU

Dialah kunci amal
Penerang dalam kegelapan
Obat kebodohan akal
Penuntun dalam perjalanan

Dialah sang pembeda
Insan lalai dan mulia
Pencegah segala dosa
Penyubur rimbunan iman

Dialah sang penawar
Jiwa gundah dan dahaga
Hati ramah tapi tegar
Penuh hikmah dan bercahaya